Pages

July 7, 2017

This. Gets. Me. ALOT.

Dear 15-Year-Old-Me, Listen to me.
Put that phone down and listen to me.

You can text that boy later. Or maybe even not. Don't, actually. Remember how you'd go vegetable shopping with Appa every Sunday morning? How you'd watch him pick the best carrots? Remember how you'd watch those old movies with Amma? Those ones you've both seen a thousand times. Remember how you'd play that Harry Potter quiz with your friend on the bus back home? Remember how you'd play Scrabble and let your sister win, because hey, you're the elder one? Remember how you'd go cycling with your friends and be so tired that Amma would laugh at how you gulped down water, after coming home?

I don't know if you remember, seeing how much you've changed.

Now, you grunt at the breakfast table, and grab a granola bar and run to the bus. You listen to 'cool' music. You hang out with kids you don't know, and wouldn't normally have liked to know. You hardly ever talk at home. You spend all your time hunched over your phone, texting guys who honestly don't care about you. You want to adult, a lot faster than faster. But you know, that extra line of kohl will not turn those boys into men. Your dystopian idea of romance is as ridiculous as you in those high heels. You smile at that phone screen, but when was the last time you smiled at Amma? You want to be different and dangerous. Wild and rough. But you end up being stupid, dense and mindless. You claim to understand love, and yet cannot see what it isn't. You don't understand it, honey. You have so much ahead of you. Places to go, things to do, people to see. But not if your chief concern is which guy likes you, which shade of lipstick goes with that skirt you've outgrown, or how to hide the puff of that cigarette from your dad. The boys, the popularity contests, the who-is-the-prettiest, none of it will matter in some years.

How do I know? Because I'm you, only I'm not you.

By @vani.97 from @ ttt_official

July 5, 2017

Why So True.

"You defined your expectations in a way which I cannot reach. You overlooked everything I do and focused on the details which I could not do. You overwhelmed me with blames I could not handle, and loaded me with feelings I did not cause. Your words left me with a heavy heart, full of pain and with many sleepless nights. Is this part of your satisfaction; to leave those you love in agony? Is it how you function? Is this your definition for care? You accused me of disrespect, while among all that was said, you were the one disrespecting me. You disrespected my privacy and the way I manage my life. You disregarded my circumstances and my conditions. You judged me without knowing the facts. Even your approach for knowing part of the truth was quite provoking. You accused me with actions I did not do. You chose to break my heart rather than find excuses for me. You were too self centered that you overlooked how your words might negatively affect me.. and they really did. I know that your words caused me pain.. lots of it. I know that you asked me to forget what was said, but I do not see it feasible.. At least not at the current time. What was said, is said, and it was definitely too much. You revealed how you think and how you calculate your relationships with people. For me, friends are people who I do not need to pretend with anything while being around them. However, in your case, you made me filter every word being said, watch out for every action being done, and even every idea being thought of. You became the wound not the heal."

@poemsporn

June 29, 2017

Menyesal.

Halo aku habis free trial Gold's Gym di Sutos (Surabaya Town Square). Sekarang jam 22.13 di jam hp dan aku kepikiran sesuatu yang membuatku sedih.

Abis nge-gym kan capek ya, jadi jalan dikit capek bungkuk capek, apalagi kebetulan hari ini naik motor kan jadi selama perjalanan kudu duduk tegak gitu. Nah terus tadi di parkiran pas aku nunggu adekku ngeluarin motor aku main hp ceritanya eh tiba-tiba ada gitu mas-mas gak jauh dari aku ngeluarin motor juga tapi dia sendirian nggak ada temen. Terus ada suara "klontang-klontang" gitu kayak panci jatuh kan w kaget yak. Ternyata masnya mundurin motor ga sengaja tanda tulisan "PARKIR"-nya kesenggol dan jatuh trs itu berat. Aku otomatis noleh kan. Untungnya masnya ga kena tapi kan karna dia nggak ada temen jadi repot dia harus turun, benerin palang, naik motor lagi......sedangkan aku............hanya terdiam disana, noleh 5 detik, dan BERPALING......hanya karna aku males bungkuk bantuin berdiriin palang dan udah asik sama hp.

Mungkin ini kenapa semua orang bilang aku egois...karna pada akhirnya, Bethari akan selalu memilih pilihan yang tidak menyusahkan dirinya.

Why bethari why......

June 24, 2017

Integritas Bullshit.

Jadi beberapa waktu lalu ada sebuah pelatihan persiapan KP yang wajib dihadiri oleh semua mahasiswa TI/MRI. Ada satu sesi dimana coach-nya menjelaskan bahwa di dunia profesional ada satu hal yang, bagaimanapun, harus tetap kita jaga. Dan tiba-tiba, disuru aja aku yang menceritakan apa nilai hidupku.

"Hmm, yang jelas integritas, kayak misal kejujuran, ya dll pasti tau lah. Integritas kan sebenernya melakukan hal yang benar meskipun orang lain nggak melihat. Jadi ya intinya melakukan hal yang benar apapun keadaannya."

And that moment I just realized that aku udah nggak pantes lg ngmg kayak gitu. Sampe akhirnya aku tambahin.

"Meskipun , ya saya kadang-kadang juga masih melakukan hal-hal yang nggak mencerminkan hal itu, tapi ya, saya berusaha."

Sebuah pembukaan, aku benci sm ketidakadilan. Loh ko ganyambung? Oke maksudnya, adil bukan berarti sama, tapi setara. Kita mendapatkan apa yang seharusnya kita dapatkan. Let's say nyontek. Menurutku nyontek adalah sebuah ketidakadilan, karna nyontek itu artinya ga adil karna ga setara. To be clear, kita mulai dengan asumsi kita ada di tingkatan yang sama. Tidak ada yang lebih atas atau lebih bawah. Kalo nyontek, keadaan jd nggak setara karna kamu dapet kelebihan sedangkan aku enggak, padahal keadaan awal kita sama.

Contoh adil menurutku adalah misal, related to my experience, ujian Sisprod TI Akhir bersama Bu Rachma diperbolehkan buka slide materi, sedangkan TI Awal bersama Pak Anas nggak boleh. Meskipun ujian kita soalnya sama, keadaan ini menjadi adil karena keadaan awal TI Awal dan Akhir di tingkatan yg berbeda (TI Akhir hampir nggak pernah diajarin materi) sehingga keadaan adil bukan berarti TI Awal dan Akhir mendapat perlakuan yang sama, meskipun dalam hal ini, subjeknya sama.
Back to topic.

Aku benci orang yg nyontek karena itu artinya nggak adil. Ya bayangin, aku belajar semalem nggak tidur dan kamu dengan mudahnya lihat hp like.....do you even realize what you're doing? What I hate most adalah, karna banyak anak pintar yang nyontek. Sebuah ironi ya, iya. Ya, mungkin, mereka ingin menjaga nilai mereka sampai harus nyontek. Bisa jadi hipotesisku salah tapi ..... hei, kalian pintar....kenapa nggak pake otak kalian yg pinter ajasi??? Kayak aku aja nggak pinter tapi berusaha jujur gitu. Kalo kalian yang pinter aja nggak pede sm kemampuan sendiri gimana aing woy?! And what I'm talking about here is not only about grades. Maksudnya....aku mengejar nilai (I mean...who doesn't? Se-tidaksetuju-nya kamu dengan pernyataan bahwa kamu sama sekali tidak mengejar nilai saat kuliah adalah omong kosong, kamu punya tanggung jawab untuk memenuhi ekspektasi orang tua kan). Tapi, kuliah bukan tentang nilai, dan nilai, dan nilai, dan nilai. Fakta bahwa masih banyak anak pintar yang nyontek membuat aku sedikit kecewa karna menunjukkan bahwa bahkan, orang yang dianggap paling mumpuni dalam membenahi negeri ini dengan kepandaianya... ternyata mental anti-nyonteknya lemah juga. So...just how can I trust them not to corrupt later then if someday they become the so-called strategic stakeholders like they've always wished for?

Tapi akhir-akhir ini aku menyadari ada yang lebih aku benci dibanding anak-anak yang nyontek itu: the fact that I am slowly becoming one of them.

Iya, aku nyontek,
I could say... semester 6 sangat.menguras.tenaga.dan.pikiran.dot.com......dan entah bagaimana ceritanya seorang Bethari yang sangat menjaga integritas waktu SM, akhirnya kalah juga di semester 6. Sungguh memalukan. Dan menyedihkan. Saya mengakui.

Baru semester ini aku dengan sungguh berani nggak naro hp di tas waktu ujian dan malah naro di kantong, donlot semua materi, dan kucing-kucingan sama pengawas supaya nggak kelihatan kalo buka hp. Dan bukan cuma itu aja, aku dengan beraninya bikin cheat sheet di post-it kecil2 yang isinya materi dan rumus meskipun nggak boleh bikin cheat sheet at all. Belum lagi rencana untuk beli likes demi mengejar like terbanyak dan dapet bonus nilai........Sungguhan Beth, WHAT WAS ON YOUR MIND? HOW COULD YOU BE SO......DIRTY......AND HUMILIATING?

Apa yang ada di pikiranmu Bethari sampe kamu harus kucing-kucingan sama pengawas biar ga ketauan nyontek? Sampe kamu curang bikin cheat sheet? Sampe kamu mau-mau aja disuru cari olshop yang jual likes youtube.....hanya demi bonus nilai... Kemana integritas yang kamu bangga-banggain bethari kemana....................

So I thought that's why I adore Hanna, this same girl I wrote about some time ago. Dia sungguh.....hebat. Like, dikelilingi orang-orang yang constantly force her to give her principle up, but she stands still. Nilai bagus, soft skill jalan, anaknya baik, dan benar-benar berintegritas. Did I mention bahwa suatu hari Aya pernah makan gado-gado nggak habis dan Hanna bilang "Ay, habisin makanannya. Uang itu punya lo tapi sumber daya itu punya semua." dengan tegas. AND THAT'S MY GURL. Aku selalu setuju dgn pernyataan itu tapi selalu dont have the gut to say it straightly to someone yang nggak ngabisin makanan, apalagi yang akrab karna takut menyinggung.

So my closing would be: If you feel offended then I'm deeply sorry....but not anyone's fault if we got a different way of thinking, kan? Semoga di malam takbiran ini kita semua bisa introspeksi diri aja. Anyway, selamat lebaran dan semoga kita dipertemukan dengan ramadhan berikutnya ya. Aamiin.

June 19, 2017

Ngaca Dulu Ya, Plis.

OK MAU CERITA.

Beberapa hari yang lalu aku ke Sun City Sidoarjo. Sesungguhnya ini adalah hari yang bersejarah, karena ini adalah kali kedua aku menginjakkan kaki di mall Sidaorjo setelah hidup dan tidur di atas tanah ini dan makan dari sumber daya kota ini selama.....16 tahun!!!!!
Mind-blowing gasi? Okeh biasa aja. Aku nonton Wonder Woman dalam rangka menghibur adeku biar move on dari hasil SBMPTN-nya (gilak w sebenernya kakak yang baik bgt gasi) dan BTW, GAL GADOT CANTIK BGT OYYYYYYYY:(((( lalu aku ingin memberi tahu bahwa di Sidoarjo nggak ada lah itu 21, XXI, atau CGV hehe....adanya suatu bioskop bernama Platinum. WKWK (jahat). Ya bolehlah masih mending ada bioskop kan mumpung lebih murah juga.

Karena selama 16 tahun ini mainku selalu di Surabaya, walhasil aku bertugas menyetir dan adekku bertugas navigator. (Nah ini baru cerita intinya mulai).
Pas pulang, seperti waktu berangkat, berbekal google maps yang macet dan otak wanita yang tidak diciptakan untuk menghapal jalan, aku dan adekku beberapa kali hampir salah jalan.....sampai akhirnya tibalah momen ini.

A = aku
I = iyak

A : Heeee ayo cepet ini mau kanan apa kiri. Rambu-rambunya bisa dua-duanya.
I : Haduuuh, google maps-nya lama iki looo.
A: Haduuuh lamaaa. Yauda kanan ya (terus ngarahin setir ke kanan).
I : Heee kiri-kiri
A : HEEEEE, kadung kanan ayo cepet mana yang bener (ngarahin setir ke kiri)
I : Ehhhhh, kanan-kanan. Eh gatau se ini loh ga jelas
A : Haduh yawes kanan aelah terlanjur iki (sambil belok kanan lagi tapi mepet-mepet bahu jalan)

Tanpa kami sadari, ternyata di belakang ada sepasang suami-istri yang lagi naik motor dan tiba-tiba ngerem mendadak.....dan bilang


"HE. NYETIR SING BENER!
DITABRAK TRUK SUKUR KON!"


Dan aku.....................TIDAK MUNGKIN TERDIAM.
Buset gaada ceritanya Bethari diginiin dan diem aja.

Pernyataan 1: Nyetir sing bener! (Nyetir yang benar!) 
--> bisa diterima, karena memang aku mengakui kalo aku nyetir ngga bener karna belok-belok kanan-kiri.

Pernyataan 2: Ditabrak truk sukur kon! (Ditabrak truk tau rasa kamu!)
--> sama sekali tidak bisa diterima KARENA NGACA BUK, PAK, PLIS. Anda jahat sekali ya doain saya ketabrak truk karena saya nyetirnya ngga bener (padahal emang gatau jalan dan udah nyalain lampu sein, meskipun at some points ini mengandung pembelaan sih), TAPI ANDA BERDUA SENDIRI NGGAK PAKE HELM, BAHKAN CUMA PAKE DASTER DAN CELANA PENDEK AJA DI JALAN RAYA YANG BANYAK TRUK GINI? Kesenggol truk apa kabar itu kepala sama badan bapak ibu sekalian? Apa nggak tinggal nama aja sama kain tipis bekas daster sama celananya?

Akhirnya aku suruh adekku teriak: 

"Mending saya masih nyalain lampu riting (sein) ya,
DARIPADA BAPAK NGGAK PAKE HELM!"

Bapaknya terdiam, dan aku puas. Banget.

Oh hello, this is the problem in our society. Sebelum doain yang ga bener, ngaca dulu ya guys. Plis. Daripada jilat ludah sendiri karna kena skakmat kan malu ya.
Aku ini nggak peduli umurmu berapa, kalau kamu salah dan udah kelewatan (jujur ya w sakit hati banget didoain ketabrak truk ya Allah salah gue seupil didoainnya ketabrak truk) ya akan kulakukan apa yang menurutku benar untuk menyadarkanmu, meskipun kadang dengan cara yang kurang sopan, if you consider what I just did impolite.

Jadi, faidah dari post ini hanya mengeluh, dan mencurahkan sakit hati, dan in any ways in case kedua bapak ibu itu datang membaca blog ini, saya minta maaf kalo kurang sopan dan semoga hidupnya bahagia dan umurnya berkah. Akhir kata, saya mau rajin ngepost kayaknya abis ini semoga tidak wacana ya dan kamu tidak bosan aamiin (kayak ada yang baca).