Pages

January 21, 2021

My Long Lost Dream.

Barusan bgt telfon sama Tika (Kartika Wensdi), temen SMP-ku dulu. Masih satu SMA sih di Smala. Penyebabnya?

"Bet, pendaftaran Pengajar Muda sudah buka. Kamu masih pengen daftar nggak?"

Dang.

Rasanya aneh: menakutkan sekaligus menenangkan. Kayak sekarang aku lagi melayang terus tiba-tiba disadarkan: helo helo, yuk turun dulu yuk sini ingat kamu tuh punya keinginan ini lohh dari dulu.

Entah kenapa, semesta (ceilah) lagi mau ngajak aku bermain-main akhir-akhir ini. Dua tahun lalu aku hampir (HAMPIR) daftar PM. Udah nulis beberapa esai dan mau konsultasi sama Tidar tapi akhirnya nggak jadi karena....aku memilih kerja dulu. Now that I'm on my 2nd year working at corporate... I start to think if THIS is what I really want to do the rest of my life. What if it is NOT? But what if it actually IS?

Jawabannya cuma satu: nyoba.

Masalahnya, berani nggak?

To be frankly honest, BANYAK banget pertimbangan yang aku rasakan untuk sekedar daftar PM sekarang. I mean...the opportunity cost? *Cry in the corner* Jujur gamau munafik tapi ya gamau sombong apa gimana juga (semoga tidak di-perceive sebagai sombong jg ya), UFLP adalah (mungkin) kasta MT tertinggi dari MT-MT program yang ada. Helooo? It's FMCG (a hundred-years-old field yang most likely akan less likely untuk bangkrut karena barangnya selalu dibutuhkan). Kedua, it's Unilever. I mean...dude??? Siapa yang gatau Unilever dan siapa yang nggak pengen kerja di Unilever (it's my dream company too in college). I bet kita semua PASTI pernah make brand-brand ULI kan (Rinso, Sunlight, Pepsodent, Lifebuoy.... banyak bgt kak). Ketiga, JUJUR. Gaji dan benefitnya......huhu. I don't come from a wealthy family with a safety net. Bahkan bisa dibilang, keluargaku cukup kekurangan juga. Dan gaji ini akan sangat bermanfaat untuk aku nabung dan ngasi ke orang tua. Jadi to give up the salary and the benefits itu pertimbangan yang HARUS banget dimasukin sebenernya. Keempat, giving up UFLP meaning giving up the quick path to becoming a manager (Meskipun sebenernya.... aku pengen jadi manager di Unilever beneran atau enggak sih? Gimana kalo sebenernya all my skills akan lebih bermanfaat kalo aku nggak pake di Sales & Marketing ULI tapi untuk bidang lainnya?)

But then again... jadi Pengajar Muda itu mimpiku sejak SMP. Artinya, aku sudah menghabiskan setengah hidupku jadi pemimpi and that's a long commitment and the desire doesn't come less tempting.  The idea of becoming masih bikin hatiku penuh dan menggebu. Masih bikin aku nangis tiba-tiba di Gojek kalo tiba-tiba keingetan. Masih bikin aku TETAP bermimpi.

Jadi Pengajar Muda juga masih salah satu cara yang bikin aku bisa berkontribusi secara tangible terhadap issue yang SELALU menggelayuti pikiranku: PENDIDIKAN. Isu ini dekat banget sama aku. Dekat banget. Gatau kenapa, I just can't help not getting triggered talking about this issue, karena akan nyambung ke isu lain yang sama pentingnya: Accessibility, Representation, Equality.

  • Accessibility: aku bisa dapat apa yang dapatkan sekarang karena aku BERUNTUNG lahir di kota besar sehingga akses utk mendapatkan pendidikan berkualitas terbuka lebar. Aku masuk Spensa sehingga aku masuk Smala sehingga aku masuk ITB sehingga aku masuk ULI. Apakah aku yakin kalau anak di desa terpencil dikasi nutrisi dan akses yang sama kayak aku maka aku nggak akan tergeser oleh mereka? Oh tentu tidak.
  • Representation: selama ini aku berpikir, kenapa I try so hard to survive in UFLP? Oh yes, karena nggak pernah ada anak Surabaya di UFLP (at least as far as I know) sebelumnya. Terus kenapa? Karena kalau aku stay, adek-adek kelasku dari Surabaya akan melihat aku sebagai contoh bahwa anak Surabaya bisa sehingga mereka merasa: MUNGKIN AKU BISA JUGA. Mereka jadi berani bermimpi.
  • Equality: gimana kita bisa tau mana yang terbaik untuk kita kalau kita nggak dikasi kesempatan yang sama? Dalam hal gender, ekonomi, pendidikan, dan lain-lain.... Think about it.

Di masa kebingungan kayak gini.. aku jadinya selalu bertanya lagi sama diriku. Udah tau pengen jd PM, ketika waktunya sudah pas.... kok ya aku masih tetep gamau daftar? Niat nggak sama keinginan jadi PM sebenernya? Maksudnya, aku daftar 2 tahun lalu, sekarang, atau 2 tahun lagi ketika sudah lulus UFLP pun nggak akan ada bedanya kan? Aku akan selalu punya hal lain yang aku rasa "lebih penting untuk jadi prioritasku sekarang" dibanding jadi PM. Ya karena....manusia kan gapernah puas!!! Huf...

Tapi entah kenapa... yang kali ini rasanya kok banyak tanda:

  1. Tiba-tiba cukup "deg" ketika lihat Pendaftaran PM buka lagi. Padahal dalam 2 tahun terakhir sudah agak 'menutup pintu" karena oh mungkin belum skrg waktunya jadi PM, aku mau fokus karir aja dulu'. Tapi kok kayak.... jadi banyak ter-ekspos.
  2. Ngobrol sama Dee di Pantai Petitenget Senin lalu dan... merasa sangat ter-encourage untuk go for it. Go for something I've dreamed of long time ago. Go for something I am always afraid to do.
  3. I have a close friend yang barusan pulang dari PM Musi Rawas.
  4. Tika tiba-tiba ngechat tentang PM. Padahal dia tau aku pengen jd PM dari lama tapi dia baru nanyain aku SEKARANG.

Ya aku juga ngga tau sih ini tanda atau ngga. Toh kalo daftar juga belum tentu lolos dan berangkat (it's a looooong way to go dari pendaftaran, seleksi, pelatihan, sampe akhirnya beneran berangkat ke penempatan). Tapi mungkin... MUNGKIN.... memang sekarang saat yang tepat untuk YAUDALAH GO FOR IT. Terus kenapa kalo nggak UFLP? Terus kenapa kalo ga dapet gaji gede lagi setahun? Kenapa?

Gimana kalo ternyata ini memang sesuatu yang akan bikin kamu berbunga-bunga setiap harinya? Beneran mendekatkan kamu ke mimpi untuk bangun sekolah-sekolah di daerah terpencil? Gimana kalo kemampuan kamu memang akan lebih dibutuhkan disini daripada di Unilever?

Gimana kalo Allah membuat kamu nggak daftar PM 2 tahun lalu karena Dia ingin kamu masuk Kantar, supaya kamu masuk Unilever, supaya kamu pernah ditempatkan di Medan untuk merasakan hidup sendiri, kerja sama orang-orang yang lebih berpengalaman, dengan segala pressure yang ada, sebagai pengalaman berhargaku yang bisa aku bawa sebagai PM?

Hmffh... mungkin jalan satu-satunya untuk menjawab semua pertanyaanku di atas emang cuma satu: daftar aja.

Tadi di call Tika tanya, sebenernya tujuanku ikut Pengajar Muda apa?
  1. Panggilan hidup?
  2. Membuktikan sesuatu?
  3. Sesimpel lagi mau keluar dari duniaku sekarang?
I think it is and has always been no 1.
It has always been my calling and that's why I never get tired of dreaming it even 12 years later.

Aku ada di sini karena banyak orang ngebukain pintu buat aku. Dan aku ingin ngebukain pintu untuk orang lain supaya mereka bisa bukain pintu untuk lebih banyak orang lagi. Aku ingin membuat anak-anak di daerah terpencil itu melihat dunia yang lebih luas dan berani bermimpi. I am here because of my dreams and I want them to get them where they want to be because of their dreams.

Bismillah. Kalau niatnya baik, Allah yang akan bantu selesaikan.

PS: I just read Tidar's note titled Catatan Syukur Pengajar Muda and I almost shed a tear. Huhu ya Allah bismillah, kalo memang jalanku insyaAllah nggak akan tertukar.

January 20, 2021

January 9, 2021

All that Comes with This Bigger Number.

My first post in 2021 is written on my way to Bali. During the pandemic. I know we're being crazy. But really this WFH thing is killing us so we are really gonna work from (temporary) home....in Ubud. A week of new view wont hurt, hopefully. We? Yes, me and Hanun.
Sebenarnya ini udah hampir tengah malem, udah siap mau bobo di travel. Tapi karna lg pasang lagu cozy dan suasana mendukung....jadi berkontemplasi.

Allah tuh...baik banget.
Barusan ikut kelas GMAT bareng Nadia dan kita berencana bikin side project yg bikin kita paling tidak jadi manusia berguna lagi. We're longing for that fulfillment feeling. Terus jadi mikir....udah 2 taun aku masuk dunia kerja.
Sudah 25 bulan tepatnya, now is my 26th month. Dua tahun, waktu yang lama tapi cepat. Rasanya ga berasa tapi berasa. Dan....emang banyak bgt berubah rasanya. Mulai dari yg intangible spt caraku memandang hidup, sampai yg tangible spt.....gaji.

Masih dalam euforia hari Rabu dimana dapet email dari Pak Wahyu yang ternyata adalah surat yg menyatakan kalo gajiku....naik. During the pandemic. I was expecting this, but with this pandemic and stuffs, surviving is more than enough let alone salary rise. Allah baik bgt.
Seriously kalau ada yg baca ini semoga ga salah tafsir jadi sombong atau pgn pamer, ini sarana refleksi diriku sendiri aja. Rasanya masih gapercaya naik gaji. Lebih ke: DO I REALLY DESERVE THIS MUCH PAY? 🥺
I'm not sure if this fact or simply is my impostor side taking lead. Tentu saja aku bersyukur, it's just that I'm....not prepared for this. All my life, denger kata 10 juta aja rasanya kaya BANYAKKK BGT. Banyak banget. Dan dengan kondisi keluargaku yg ekonominya ya begitulah (this topic still triggers me emotionally), punya 10 juta secara insidental aja rasanya hampir ga mungkin, apalagi punya 10 juta secara rutin. Mungkin inilah salah satu sebab aku selalu merasa impostor ya, selalu merasa undeserving. Bayangin orang kerja kok enak banget ya, punya 10 juta rutin. Bisa lakuin ini itu dan less afraid to take risky challenges.

Nah sekarang masalahnya, they pay me XX-times 10 juta. SECARA RUTIN. I do NOT anticipate this feeling. I don't think I will ever all my life. And this happens....so fast. Too fast.

I remember my first role in Kantar...they paid me 5.5jt/month. That time I thought yauda gapapa toh fresh grad harus banyak belajar. Ngerasain ngekos di tempat di Kuningan dgn kosan harga 1jt perbulan (tolong dibayangkan seburuk apa dgn rate Kuningan). No AC. Campur cowok-cewek (worst decision). Kamar mandi luar. Sabun sering dicuri tiba2 abis. Digodain abang genit. Orang sebelah nyanyi kedengeran. Pernah kena kutu rambut pula. The list goes on and on.
Now here I am 2 years later. Move to even bigger company. Highly reputable one. Pay me XX times my first salary only after 1.5 year joining. Afford to take kosan rate 2-3jt dengan TV dan kamar mandi dalam tanpa merasa terbebani. Able to buy anything I want. And what my family wants. Feeling okay and child-like ecstatic buying KFC bucket (finally). Now going to Ubud without really thinking on the expenses just bcs I need the so-called peace of mind. The list goes on and on. And this happens....so fast. Too fast.

Rasanya senang dan menakutkan. Kayak...now what again? Where's the poop? When something's too good to be true then it's not true, ya kan? Well...I do not hope so. But still it haunts me. Aku nggak mau terbuai dengan semua ini. If I were not what my role is, who am I?

I still want to be called as some kind of person, human. With my being, interest, emotions. Not some kind of title nor achievements nor numbers. Because I have stories and that's what I hope my strength comes from. I hope these golds won't blind me.

Tapi ya Allah, if You really think I deserve all this....then help me. Help me to make use the best of it. To be able to learn, contribute, and give my 100% to my company while at the same time letting others grow through me.
Mampukan aku untuk bisa memanfaatkan rezeki-Mu ini sebaik-baiknya untukku dan orang-orang sekitarku. Untuk bukain lebih banyak pintu sehingga mereka bisa bukain pintu untuk yang lain, so they can build their own privilege too.

Bismillah..

December 31, 2020

2. How have I changed in the past 2 years?

 Sebuah challenge yang ditujukan agar aku rajin menulis...tetapi sepertinya masih gagal. Karena challenge dimulai bulan Agustus dan sekarang bulan Desember. Hari terakhir pula. Wow besok udah 2021.

Ini seharusnya bukan tulisan refleksi 2020 (as much as I wanted to be). Tapi pertanyaannya cukup membuat triggered untuk berpikir perubahan-perubahan yang terjadi selama 2019-2020. Jujur, 2020 sangat berkontribusi dalam perubahan itu, meskipun 2019 juga, sehingga most changes pasti akan dihasilkan dari 2020. Tapi kali ini, mungkin aku akan cerita secara umum saja dulu tentang 2 tahun terakhir, sebelum 2020 berakhir. Wow besok udah 2021 (2).

How have I changed in the past 2 years?

Banyak banget pikiran muncul di kepalaku mikirin jawabannya, semuanya berlomba-lomba jadi top of mind dan seperti biasa, dengan pikiranku yang sangat abstrak dan intuitif, I have hard times structuring these thoughts. Hmm mungkin aku akan klasifikasikan jadi 3: body, mind, and soul.

1. BODY

Segala sesuatu yang tampak dari tubuh manusia. Sangat self-explanatory. Secara penampilan.. aku tidak mengalami perubahan yang sangat besar sejak 2018 hingga 2020. Misal dari yang kurus bgt jadi obesitas (wow this one's drastic). Dua tahun terakhir sih secara fisik ya masih begitu-begitu saja. 160cm. Berat yang agak fluktuatif, antara 54 sampai (mungkin) 60kg lebih pas awal pandemi kemarin. Keliatan banget chubby-nya pipi ini hahaha. But it's okay. Di 2019, aku begitu-begitu saja. Tapi di 2020, well, aku berubah banyak terutama dari caraku memandang tubuhku. I love my body even more, despite all the flaws! Aku menghargai tubuhku jauhhh lebih besar daripada dulu sehingga aku akhirnya akhir-akhir ini mulai rajin olahraga. Bukan supaya kurus, tapi karena aku ingin berterima kasih sama tubuhku karena dia sudah melewati segala macam badai (it could've been worse, could've caught any diseases, or anything but it chose to keep me healthy). Hasilnya ya akhir2 ini badan jadi lebih toned. Ugh aku punya otot di tangan, lihatnya bikin seneng that hardwork & consistency pays off. Alhamdulillah, masih jarang sakit (jangan sampe amit2).

Kedua, dari sisi penampilan adalah... aku sempat potong rambut pendek banget di 2019. Dengan sengaja manjangin rambut sampe panjang BGT (the longest I've been) supaya bisa donor rambut untuk anak kanker. Semoga bermanfaat, my heart always feels full each time I think about this. Sekarang... masi berusaha manjangin lagi haha. I guess that will always be my cycle moving forward. Panjangin, donorin, potong pendek, repeat. OHHH INGET. Di 2019 akhir yang dilanjutkan di 2020 aku akhirnya berani ngewarnain rambut untuk pertama kalinya! Dari dulu gapernah berani, karena dulu rambutku rusak & bercabang banget jadi makin takut gimana-gimana. Turns out, hasilnya ternyata bagus-bagus aja meskipun ga rata. Ya mohon maklum namanya juga bukan di salon mahal, cuma pake Garnier yang 12 ribuan WKWKW.

2. MIND

Mind, definisinya adalah aktivitas berpikir dan mengambil keputusan. Jujur, sepertinya ini yang palinggggg banyak berubah. Ya tentu saja aku masih sangat berantakan dalam berpikir, tapi dengan ditampar kehidupan, sepertinya aku mau tidak mau harus meng-cultivate structured thinking-ku dan melihat situasi dari banyaaaak sekali perspektif. Tenang, aku masih impulsif meskipun jadi banyak diredamnya sih HAHA. Bukan karena gamau, tapi lebih ke karena kesempatan melakukan hal impulsif makin sedikit dengan semakin banyaknya tanggung jawab (Hmm ataukah ini hanya alasan???)
Hasilnya: aku menjadi manusia yang lebih realistis dan tidak se-idealis dulu. Apakah ini a bad or good thing? Well tergantung cara melihatnya aja sih. I would say this is just the right decision. Karena berpikir realistis membantu menyimpelkan masalah sehingga lebih gampang cari solusi. Iya, masalah hidupku kan kadang plin-plan kalo nggak tau mauku sendiri.
Dulu aku orang yang SANGAT berapi-api. Sekarang masih, but in a more calm & collected way. Kalau ada hal yang nggak berjalan sesuai rencana, I used to be very mad. Sekarang? "YAUDAHLAH" adalah motto-ku untuk mengingatkan diri sendiri soalnya kalo dibuat overthinking jadinya malah capek sendiri.
Terkhusus di 2020, aku juga mengembangkan kemampuan untuk melihat sesuatu dari perspektif lain. Kalau ada sesuatu yang salah, dari mana nih liatnya? Bener nggak ya respons-nya, what am really feeling, thinking? I am becoming more more aware of my being. Jadi sudah hampir nggak ada keputusan yang diambil dengan sangat impulsif kecuali yang ada hubungannya dengan adrenaline rush (misal: tiba2 diajak bungee jumping sekarang bgt mau? MAU! WKWKWKW).
Tentu saja ini disertai dengan berbagai macam pengalaman yang terjadi dua tahun ini. Major change: aku lulus kuliah lalu lanjut bekerja di Kantar 10 bulan dan lanjut bekerja di Unilever 1.5 tahun terakhir. Dunia kerja yang sudah pernah aku bayangkan & antisipasi tapi ketika dilakukan ya tetap tak terbanyangkan aja. Melihat dari kacamata orang awam: wow lulus dari ITB langsung dapet kerja. wow masuk UFLP pasti keren pasti pintar. Aamiin-in aja dulu, sambil belajar sambil dilakukan hahaha. Truth is: I haven't found my ultimate flow yet at the moment. Masih perlu banyak menyelami kehidupan untuk memahami apa maksud Tuhan dengan jalan hidupku saat ini. Kuliah yang menyenangkan di Bandung lanjut ke kehidupan Jakarta 10 bulan dan kehidupan Medan 4 bulan dan kemudian kehidupan WFH 10 bulan itu..... (isi sendiri). Tapi so far, bersyukur sekali dengan segala hal ini karena dikasi kesempatan untuk kerja di Kantar bertemu teman2 yang baik dan kerja di Unilever yg memberiku pengalaman kerja luar biasa. So in a nutshell, selama dua tahun terakhir aku akhirnya pernah hidup di The Capitol (Jakarta - at last!), kerja di perusahaan impian, dan tinggal di kota orang yang cukup keras.

3. SOUL

Segala sesuatu yang melibatkan perasaan dan sifatnya intuitif. Jujur takut ini messed sama yang mind, tapi yaudasih ya bukan bikin jurnal ilmiah dan gaada yg judge juga kalo salah wkwk. Jadi mungkin aku akan bercerita lebih ke 'apa yang membuat hatiku terasa fulfilled' dari berbagai sisi. Mostly antara mind and soul kadang emang saling menunjang sih jadi akan overlap juga.

- Friendship
Jujur I'm not good at keeping friendship tapi temanku dalam 2 tahun terakhir ternyata memang itu-itu saja HAHAHA. Still in a good touch with Macbeth (ofc) dan teman2 SMA dan kuliah. Yang baru dan paling berkesan tentu saja PCMI Jatim dan my Kantar BFF (Donna). Di PCMI Jatim dalam 2 tahun terakhir aku benar-benar merasa mendapatkan keluarga dan rumah baru. Sayanggg banget sama mereka, semoga dengan aku jadi BPH aku bisa kasi kontribusi yang baik bagi tanah kelahiranku. Aamiin. Dan tentu saja.. dalam 2 tahun terakhir aku ketemu... Donna. Sahabatku yang bikin aku bener-bener "telanjang" di depannya, semuanya aku ceritain sampe tentang keluarga yang aku ga berani cerita ke siapa2. Turns out, we have lots of scars in common jadi kita bisa healing bareng. So grateful for her! Dan terakhir adalah pertemanan baru dari UFLP. I guess pressure had made us friends, mau gak mau HAHA. But grateful for people yang cukup dekat denganku utk saling berkeluh kesah. Semoga kita sukses selalu di stint masing-masing guys!

- Family
Bagian ini...jujur aku bingung harus menceritakan gimana. Tapi dalam dua tahun terakhir I've had the most turbulence with my family yang sampe sekarang aku juga bingung apakah sudah bisa ikhlas dan memaafkan atau belum. Well, sepertinya belum. We are good, but we just don't share that deep connection other families have. Still grateful for them and wishing them all the good things, but not denying the fact that I also hate them - especially my parent. We all process pain and wound differently after all.

- Self-Actualization
So far sih sudah dijelaskan di poin no. 2 tapi mau menegaskan sekali lagi bahwa... aku sangat bersyukur masih dikasi pekerjaan yang bikin aku grow dan learn selama 2 tahun terakhir. Allah baik banget. Meskipun masih banyak banget keinginan yg pengen dilakukan tapi masih galau/belum tercapai seperti jadi Pengajar Muda dan jadi instruktur Zumba utk kemudian bikin studio zumba, ya namanya juga kehidupan. Ga semua harus terjadi saat ini juga. It is okay!

- Love Life
Part paling males bahas soalnya ga banyak terjadi HAHAHA. Jujur ya flat-flat aja kehidupan percintaan aing, kering kerontang. Bingung juga kenapa cowok-cowok gada yang mau PDKT sih... WKWKW apakah ada yg salah dgn diriku??? But anywayssss, well jujur di 2020 ini sempat deket lagi sama seseorang tapi the ship didn't sail despite the smooth wave at the beginning. Well, when everything was so good you just need to wait for the poop to smell. It happened. Life.
Tapi satu hal yang sangat aku pelajari tentang percintaan adalah let go. Let go of the feelings that weigh you down. Move on. Closure is not a real thing, it's just my ego to want other party acknowledge my feelings. I learned to set the boundaries to myself to what extend some things may affect my life. Yang terpenting setelah let go, rasanya lebih tenang. Dan for the first time in forever, aku merasa bahagia melihat mantan-mantanku bahagia. :))))

So.. to sum up. In the past 2 years, major thing I noticed is changing is my APPROACH to life (I become more realistic & rational), I understand my RED BUTTON (I learned about setting boundaries personally & profesionally and to become GENTLE & KINDER to myself (I need to put myself first before taking care of someone else).Through all those experience, I've developed MORE SELF-AWARENESS.

Despite all the challenges, I am so proud of the person that I've become.
Tetap belajar dan jangan lupa press reset whenever needed ya Beth. Terima kasih sudah dengan sabar dan ulet belajar beradaptasi dengan segala tantangan sampai hari ini. Kamu keren bgt sumpah.

Bentar, kenapa pertanyaan no. 2 jawabannya jadi serius banget WKWKW. But anyway, gapapa jadi sarana refleksi diri juga. See you di pertanyaan #3!

November 29, 2020

Hari Aku Merasa Cukup.

 Hari ini aku merasa.... cukup. Tidak kurang dan tidak lebih. Dan aku sangat bersyukur!

Waktu memulai hari aku punya beberapa hal yang HARUS dilakukan hari ini. But... life. You can't always expect anything to fall into place. And it's always nice to have surprises coming your way too! So, yang membuat aku merasa cukup hari ini adalah karena aku MENYADARI dan MENERIMA bahwa aku memiliki beberapa rencana dan tidak semua berjalan sebagaimana mestinya dan itu sama sekali gapapa! Dan lagipula...weekends are for slowing down. Ya kan? (Semoga ini bukan pembelaan juga hahaha).

But anyway, ada beberapa hal yang membuat aku senang dan sedih hari ini. Tapi anehnya, porsinya pas sehingga aku merasa...cukup.

JUSTIFYING MY HAPPINESS:

  1. Hari ini aku facilitating YLI Forum 2 dan...aku merasa senang dan energized banget karena akhirnya bisa melakukan apa yang dulu bikin aku fulfilled banget (self-development dan bisa sharing). Bonusnya: kelompok yang aku fasil-in bisa dapet 3rd Place dengan mempraktekkan beberapa tips yang aku kasih waktu fasil tadi. Cuma 30 menit tapi semoga ada yg bisa mereka pelajari dari sharing-ku.
  2. Nonton video Cania Citta yang emang aku pengen nonton bgt tapi selalu lupa. Tentang rasionalitas ketika berpikir dan somehow jadi cukup enlightened dari situ. So I'm happy
  3. Dan bisa nyelesaiin buku I Am Malala! Kupikir hari ini nggak akan bisa selesai...eh ternyata selesai. Bahagia akhirnya bisa menyelesaikan buku 'serius' satu biji di 2020 yang penuh liku ini. Dan karena Malala keren banget. Aku akan minta anakku baca buku ini nanti ketika dia SD atau SMP!!!
  4. Nonton Start-Up... HAHA. Being a K-drakor fan that I am now.... seneng deh Start-Up ceritanya bagus, ada tentang bisnis (bisa sambil belajar), tentang keluarga, dan obviously tentang cintanya yang bikin aku termehek-mehek #TeamDoSan Foreverrrrr!
  5. Dan meskipun banyak agenda....tetap bisa jalan sore dan dapet 10.800-an langkah di akhir hari dan bisa tetep arms & abs day.
  6. Ketika kupikir aku tepar... ternyata aku malah semangat banget menyulam. Turns out...aku suka bgt agenda menyulam daun hari ini. Pattern menyulam favoritku so far!

YLI Forum 2


I Am Malala - an excerp from Malala's speech at the UN conference 2013

Menyulam - #slowbutsure


JUSTIFYING MY SADNESS:

  1. Bangun kesiangan (jam 7.20 dari rencana bangun jam 6) dan gajadi baca buku pagi hari. Ya...emang tidurnya baru jam 1.30 pagi sih... what do you expect juga beth wkwk.
  2. Dan karena bangun kesiangan....jadi nggak subuh dong. Huf ini yg harus aku latih juga nih, SOLAT SUBUH GABOLEH MISSED!
  3. Forum YLI yang aku kira akan 1 jam doang..ternyata jadi 3 jam sampe jam 12 dan cukup mengubah rencanaku (ya kalo rencana seharian berubah tuh mood-nya jg bisa berubah). Tapi...mengingat beberapa hal juga masih bisa kulakukan jadi sedihnya masih teratasi sedikit sih hihi.
  4. Drakor Start-Up tuh belum abissss. Jadi aku ga berani nonton cepet2 soalnya aku gasuka nungguin!!! Wkwkw jadi meskipun yg lagi live sekarang udah Eps. 14 tapi aku tahan-tahan Eps. 10 supaya ada tabungan episode dulu haha.
  5. Keasikan menyulam jadi....gajadi kerja. HAHA. Iya aku rencana nyicil beberapa kerjaan hari Minggu supaya pas Senin kerjaan aku berkurang sedikit. Tapi setelah dipikir-pikir....YA WEEKEND NGAPAIN KERJA SIHHHH. Udah jangan ulangi lagi kesalahan Pepsodent yang sgt entitled to work. I am not my title, I am not my job, I will be defined by the things that I love!
  6. Gagal tidur jam 10.....hix......... Besok deh beneran aku tidur jam 10 supaya bisa bangun pagi!!!

So once again, hari ini cukup. Tentu saja bukan karena aku merasa bahagiaaa terus seharian. Tapi karena aku acknowledge my sadnessas much as my happiness. Namanya manusia, punya perasaan. Dan perasaanku, perasaanmu, perasaan siapapun selalu valid. You don't have to feel sorry for every feeling rushing in your heart. Dan jangan lupa bahwa setiap orang punya battle-nya masing-masing :)

Semoga minggu depan jadi minggu yang lebih baik untuk kita semua!
#ForBetterWellbeing2021