Pages

March 28, 2017

A Letting-Go.

An askfm notif-based post alert.

"mb beth, ini gak perlu dijwb sih di ask, tp aku pgn tau bgt hal sebodoh apa yang akhirnya bisa bikin mb beth dan "wisdate" partnernya jauh? mau gak kl mb beth cerita sedikit aja ttg itu? huaa sumpah aku se have-no-idea itu hu *sad* bye mb beth, jangan lupa bahagia, krn mb beth seberuntung itu :)"

Apparently, no, honey. Not gonna talk about it :)
It was so stupid. I was one thousand times stupid just to think about it I would hurt myself.
Just, if you're sad then.....just think about about how a lot more I was (and sometimes, still am) sad. But I am recovering tho. Thank you for your kind words, it made my day.


Seminggu ini hanya agak.....sendu.
That moment you know is gonna come but trying to avoid WILL finally come.
A mixed feeling between happy, sad, regrets, excitements, denial....when that one person you've always been dreaming of, who was once fallen for you right before you realized, but was too late the moment you knew, will finally....go. Bahwa sebentar lagi dia akan meninggalkan tempat kalian dipertemukan, dan itu membuatmu sedih.

My biggest fear is not that he will forget. My biggest fear is that I will.
I don't wanna mess around with forgetting, I wanna be ok with remembering.

March 27, 2017

Dosen Bukan Dewa dan Mahasiswa Bukan Kerbau.

In an uber need of someone to rub my back and tell me everything's gonna be alright...........even when it's not.

Sekarang nggak akan ada yg mau sekelompok sama aku.

Kenapa sih hidup ini ngga ada tombol reset atau rewind?
Dan kenapa sih dosen hidup kayak hidupnya yang paling penting?

Kenapa sih kalo mahasiswa telat gaboleh masuk kelas tapi kalo dosen telat bisa seenaknya bilang di WA?
Kenapa sih kalo dosen boleh telfon2an tapi mahasiswa gaboleh buka hp?
Kenapa sih kalo mahasiswa hp-nya bunyi karena lowbat diusir tapi kalo dosen membatalkan kelas M-30 mahasiswa nggak boleh protes unless bersedia nilainya tiba-tiba jelek?
Aku tau mereka berpengalaman tapi apakah dengan begitu membuat hidup mereka jadi lebih berarti dibanding hidup kita?

***

Kenapa sih hidup perkuliahan ini harus kayak gini. Nggak tau apakah aku harus sedih atau kesel tapi boleh nggak aku nangis sebentarrrrr aja.

Kalo aku meninggal mungkin nggak akan ada profesor-profesor yang dateng. Kalo aku meninggal mungkin yang ngelayat nggak akan ngantri lihat jenazahku. Kalo aku meninggal mungjin nggak ada karangan bunga berduka cita yang mampir ke rumahku. Kalo aku meninggal mungkin nggak ada sisa ilmuku yang cukup berguna yang bisa dibagi-bagikan ke orang. Intinya, aku sepenuhnya tau I am just a piece of worthless shit. I'm not pretty I'm not smart, I am nothing. Tapi dosen2 itu tau nggak sih kalo mereka nggak berhak mengklaim hidupku lebih nggak bermakna dibanding hidup mereka hanya karena mereka dosen dan aku mahasiswa, hanya karena mereka pandai dan aku cuma sepersekian dari kepandaian mereka, hanya karena mereka sudah melakukan apa-apa dan aku baru akan melakukan apa-apa.

Pak, Buk, kalo saya bisa membelah diri dan punya uang yang cukup sekarang juga saya bersedia dengan sepenuh jiwa raga saya tanpa dibayar keliling Indonesia ngajar anak-anak di pedalaman sana biar mereka bisa sehebat bapak-ibu sekalian, tapi coba lihat, sekarang siapa yang membuat beban kuliah ini sebegitu rumitnya sampai pada akhirnya hanya akan dua pilihan untuk saya: terjebak di kampus dengan mata kuliah 2 sks rasa 20 sks atau keluar menjelajahi dunia dan track record akademik saya buruk?

Ah, mungkin memang saya yang nggak bisa bagi waktu.
Just me being naive, anyway.

March 26, 2017

Pengajar Muda.

Hari ini Robin Hood kelar and I couldn't be more grateful. FINALLY!

One of the highlights of the day adalah: Kak Eliya Amilati Hanafi, Teknik Sipil ITB 2010, Pengajar Muda Angkatan XI.

Beberapa hari yang lalu, tepatnya hari Senin, kelas Sisprod dibatalkan. Dan ya, aku udah pesen Gojek tapi karena nggak mau cancel akhirnya aku ke Simpang aja dan pulang jalan kaki lewat jalan tikus deket sungai. Guess what? There it goes. Segerombolan anak SMP, masih pake seragam putih-biru, tingginya nggak lebih dari aku, jam 10 pagi, duduk-duduk sambil ngobrol,

dan ngerokok. Seperti biasa. Seperti biasa.


Gosh,
Hatiku hancur berkeping-keping. Literally hancur, kayak tiba-tiba isi perutmu tumpah gitu, tau kan rasanya? Aku setiap lewat situ dan liat anak-anak SMP kaya gitu pengen nangis rasanya. Mereka izin ke orang tuanya mau menuntut ilmu, bayangkan ada berapa orang tua yang merasa tenang mengirimkan anak mereka ke sekolah dan berapa orang tua  yang pada akhirnya akan kecewa mengetahui kalau anak mereka ternyata bukan cuma bolos kelas....tapi kabur dari sekolah....dan merokok. Aku sesedih itu ngelihatnya. Alasannya jelas, karena:

1. Aku benci perokok.
2. Kenapa sih mereka harus ngerokok di antara banyaknya kesempatan lain yang bisa mereka habiskan untuk sesuatu yang jauh lebih berguna?

If I could turn back time, aku akan melakukan apapun yang nggak aku lakukan selama SMP. Se-ingin itu. Dan mereka yang punya kesempatan malah menyia-nyiakan dengan......merokok.

Guys, I change my mind so quickly.
Tapi ada satu keinginan dan mimpiku yang nggak pernah berubah sejak SMP: jadi Pengajar Muda.
Ya Tuhan, aku seingin itu jadi Pengajar Muda. Seingin itu (and now I'm crying thinking about how much I really want this to happen). Setiap orang tanya cita-citaku jadi apa, atau kerja dimana, aku nggak pernah bilang aku mau kerja dimana secara langsung. Aku pasti bilang, "Saya pengen jadi Pengajar Muda dulu setahun, doain ya Pak/Bu." Because I really want this. That much. Aku nggak peduli aku akan kerja dimana nantinya, as long as aku bisa jadi Pengajar Muda dan memberikan seluruh jiwa raga tenaga waktu dan uangku untuk bikin perubahan di negeri ini, sekecil apapun, lewat pendidikan, aku akan kasih.

Guys, I am not a saint.
Aku bukan orang yang baik hati, aku banyak salah, dan aku sering menyakiti hati orang lain. Tapi kalo ada satu hal yang akan aku klaim sebuah kebaikan dari diriku, adalah aku akan melakukan apapun untuk kemajuan bangsa ini lewat pendidikan. Aku bukan anak yang jenius, bukan mapres, dan nggak pernah ikut lomba. Tapi aku sadar, aku adalah segelintir orang yang lebih beruntung untuk dapet pendidikan, dan jauh lebih beruntung karena pendidikan itu didapat dengan mudah dan dengan layak. Untuk mengejar pendidikan setinggi langit untuk diriku sendiri adalah sebuah kemuliaan, tapi kemuliaan sesungguhnya buatku adalah kalau aku bisa membuat lebih banyak orang mengejar pendidikan yang sama sepertiku, mendapatkan kesempatan yang sama sepertiku.
Aku lahir bukan di keluarga kaya. Ayah ibuku bukan lulusan universitas, tapi ibuku, kalau ada satu hal yang selalu tertanam di benakku tentang ibuku, adalah bagaimana beliau memperjuangkan pendidikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Simply because, dia tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkannya, dan dia tidak ingin anak-anaknya merasakan hal yang sama seperti dia. Dari sini aku tahu, bahwa pendidikan adalah sebuah pintu gerbang. Pendidikan adalah satu-satunya elevator dari kemiskinan.

Guys, if you're reading this: aku mohon sedalam-dalamnya, untuk mendoakanku untuk jadi bagian dari Pengajar Muda suatu hari nanti.
Aku tau aku nggak mampu untuk berkontribusi lewat uang. Dan satu-satunya cara adalah lewat tenaga dan ilmuku. Aku cinta negeri ini, secinta itu aku nggak mau negeri ini terpuruk hanya karena masa depan pemudanya buruk. Itulah kenapa hatiku sehancur itu ngelihat anak SMP jam 10 pagi di hari Senin, bukannya belajar di kelas untuk memajukan negeri ini, malah menyia-nyiakan kesempatan yang diimpikan jutaan anak lain di pedalaman. Dan menjadi Pengajar Muda, memberiku kesempatan untuk setidaknya, mewarnai secuil jalan hidup anak-anak pedalaman itu menuju dunia yang lebih luas, yang selama ini hanya mereka dengar lewat gambar dan cerita, menjadi imaji yang dekat, yang mampu mereka wujudkan.

Guys, call me crazy.
Tapi kalau di dunia ini nggak ada yang namanya uang yang mengharuskan kita untuk selalu mengejar materi duniawi dan prestise dimanapun kapanpun, cita-citaku cuma satu: aku ingin keliling Indonesia dan membantu. Aku nggak peduli kalau aku nggak digaji, selama aku masih bisa hidup, jalan, ngajar, dan berbagi, aku akan tetap bahagia.
What defines your true happiness?
Setelah dapet uang? Setelah dapet nilai A di transkrip? Setelah dapet pujian?
Kebahagiaan yang sesungguhnya menurutku adalah ketika kita habis membantu seseorang, dan orang itu senyum. Iya, cuma senyum. Tapi you can really tell kalau senyumnya mereka tulus. Kadang kita memberi sesuatu dan berpikir orang yang kita beri itulah yang mendapat sesuatu. Padahal, KITA-lah yang dapet sesuatu dari mereka.

***

Ada beberapa momen di presentasi Kak Eliya tadi yang, nobody would notice, aku menitikkan air mata. Bukan karena sedih, tapi karena terharu bagaimana mereka sangat ingin mengejar pendidikan lalu menyadari betapa nggak tau dirinya aku (dan jutaan anak muda laim di negeri ini) yang mendapat kesempatan untuk sekedar bisa dapet pendidikan dengan berbagai kemudahan, malah memilih bolos atau tidur di kelas, sedangkan mereka yang di luar sana, untuk sekedar belajar baca dan hitung aja, bersedia jalan kaki lewat gunung 1-2 bahkan 8 jam.

"Kenapa kalian ga ajak Bu Guru ke hutan cari kayu bakar?"
"Sudah Bu Guru mengajar saja, biar kami yang bagian cari kayu bakarnya."


"Bu Guru, aku nanti mau jadi Ibu Guru.
Aku mau sekolah, belajar terus, nanti lulus sekolah mau belajar lagi,
nanti mau kuliah belajar terus. Nanti aku mau belajar di Paris,
belajar di Belanda. Nanti kalau aku sudah belajar,
aku mau balik ke kampung ini."


"Bu Guru, sini."
"Kenapa, Ma?"
"Ini ubi buat Bu Guru."
"Sudah tidak usah, Ma."
"Sudah tidak apa-apa ini buat Bu Guru."


"Ini foto salah satu bapak pengajar disana.
Di penempatan saya itu, guru yang mengajar hanya kepala sekolah
dan bapak ini. Beliau bahkan hanya lulusan SMA.
Tapi beliau bilang 'Anak-anak disini, baca tulis hitung saja belum bisa, jadi saya mengajar saja.'"


***

Guys, if I could tell you how much I want this, the whole sky wouldn't even be enough.
Karena adakah yang lebih tulus, mulia, dan indah dari setahun mengajar dan seumur hidup menginspirasi?


PS: bikin ini sampe
sesenggukan saking pengennya:(

March 19, 2017

Don't Make Us Fall.

You said you didn't wanna lose me, eh?
I guess twas just us assuming different.

Gambar terkait

Well, thank you anyway.
Just, please. Have you not been completely moved on from your past, never say things that's going to make any other innocent girls would hold onto from moving on too. Just, dont.

I hope the very best of you, I do, with her.

March 17, 2017

tolong aku mulai gila

Sedang merasa sangat tidak enak dengan apapun dalam hidupku saat ini. Kaya stress tapi nggak stress, kaya sedih tapi nggak sedih, senang juga nggak senang. Jadi apa?

Fyi, aku sudah menghabiskan 3 eskrim cornetto dan magnum (yang mana adalah eskrim mahal if you know me) dan satu bungkus silver queen tanggung dalam 3 hari terakhir. Sudah makan nasi padang dan bikin sambel matah sendiri. Sudah cukup tidur (bahkan kebanyakan tidur), puas nontonin youtube, dan nonton film tiga hari terakhir. Intinya, sudah melakukan segala hal yang membahagiakan dan sekiranya akan memperbaiki mood, tapi aku tetap tidak merasa lebih baik. Jadi ini kenapa?

Pertama aku kira cuma efek tugas dan praktikum dan ujian yang menumpuk sampe buat tidur aja ngga ada waktu yang sekali lagi, sangat traumatis, minggu lalu. Tapi setelah semua kegabutan ini datang mengapa ku tetap kayak gini?

Sejenis..........hampa.

Kayak sedang mengejar sesuatu tapi apa yang dikejar ngga tau. Kaya sedang dikejar juga tapi nggak tau dikejar apa. Kaya selalu berlari tapi ngga pernah sampai. Kaya selalu berusaha tapi ngga pernah tercapai. Udah tiga tahun belajar di Teknik Industri, harusnya aku tau kalo ada sistem yang nggak efisien dan efektif disini. Dan iya aku tau. Tapi buat benerin........semacam tidak ada motivasi.

Sedang merasa sangat ingin cepat lulus dan lepas dari semua beban perakademikan ini.
Sedang merasa sangat lelah dengan tanggung jawab ini dan segera jadi Pengajar Muda, backpacking, naik Rinjani, dan udah kerja di sebuah perusahaan bonafid penghasil kosmetik atau mengejar S2 LPDP di Eropa atau US.
Sedang merasa sangat bosan dengan kesendirian yang cukup menyedihkan ini dan segera umur 25 tahun lalu akhirnya mengetahui siapa yang akan mau menghabiskan sisa hidupnya dengan manusia yang hancur sepertiku.

***

Sudah empat bulan kandas ya ternyata.

Sejak menghabiskan cukup banyak waktu hari Senin kemaren sedekat itu (maksudnya sedikit ngobrol dan hanya berjarak +- 2 meter selama kurang lebih 3 jam di himpunan) lagi setelah empat bulan.............call me pathetic, tapi sedikit banyak aku jadi kembali sedikit berharap lebih.............sigh

I am that pathetic.
Sejak Senin kemaren, entah sudah berapa kali otak ini playback momen-momen itu dan selalu berakhir hembusan nafas, mengingat dulu, setiap aku capek, pengen nangis, ada jokes garing, atau tiba-tiba pengen ke suatu tempat, ada seseorang yang aku tuju. Dan sekarang, hidupku membusuk di kampus, himpunan, atau kosan.

Mungkin ini namanya sejenis rindu.
You know dat feeling ketika baca suatu quote dan your brain unconciously relates everything to that one person kan. Mine happens to be him. Aku mulai membayangkan hal yang nggak mungkin terjadi. Nanti selesai wisnite mungkin akan ada jalan-jalan spontan ke Bukit Moko lagi. Sekarang gajadi PW gapapa tapi dua tahun lagi dia PW-ku. Kalo aku ga bersikap bodoh waktu itu harusnya kita masih bersama dan aku bisa upload foto dia sidang. Kalo aku lagi kayak gini biasanya aku telfon dia. Kalo dia lagi gini biasanya dia telfon aku. DLL DLL DLL DLL pretty much dll karna semakin banyak playback memories yang aku putar, semakin banyak wild wishes ini, hingga pada suatu titik waktu hari ini, aku berpikir sebuah ide yg nggak pernah terlintas di benakku selama ini: what's wrong with girls chasing boys?
Dan sepertinya, alam semesta bersekongkol untuk menjadikannya mungkin.

ARGHHHHHH BETH, YOU'RE GOING CRAZY STOP IT PLS SEBELUM MASUK RSJ BENERAN ARGHHHHHH