Pages

September 22, 2018

Kucingku Omeng.

Dari kecil aku nggak pernah dibolehin pelihara binatang sama Mama. Katanya sulit ngurusnya, mulai dari bersih-bersihnya sampe ngejagain makanannya. Kalau sama Papa, sebenernya beliau lebih fleksibel daripada Mama. Tetapi, beberapa bulan terakhir, ada seekor kucing kampung yang membuat keluargaku seakan punya peliharaan bersama. Makhluk hidup selain manusia yang kita sayangi bersama. Meskipun Mama sering marah-marah kalo dia obrak-abrik sandal di depan rumah, tapi toh Mama tetep mau aja beliin dia ikan pindang tiga hari sekali buat makanannya.

Namanya Omeng.
Omeng, kucing kampungku.

Beberapa bulan terakhir Omeng suka nunggu di depan rumah. Nunggu dikasi makan. Awalnya yang paling excited dan menyadari kebiasaan seekor kucing kampung yang tiba-tiba dateng ke rumah kalo ada maunya ini ya siapa lagi kalo bukan adekku yang dikit-dikit freak out sama hal-hal lucu, Iyak. Tapi kemudian, karena Papa dasarnya adalah anak ndeso yang bertumbuh bersama alam dan mencintai seluruh makhluk hidup, jadi Papa dan Iyak adalah garda terdepan penyambut Omeng di keluargku. Lama kelamaan... I cant help falling in love with her. Omeng is innocently beautiful.

Selayaknya kucing kampung, jangan dibandingin sama kucing persia ya. Kadang-kadang ketemu Omeng bersih dan cantik, meskipun lebih sering lihatnya kucel item kayak abis kecemplung got. Kadang-kadang agak sedih kalo ngelihat ada sedikit bekas luka tiap nunggu di depan rumah buat minta makan. Meskipun aku di Bandung, Papa dan Iyak setia banget ngasi makan Omeng tiap hari dan update di grup keluarga di WA. And if you know my family, isi foto keluarga lebih banyak foto Cemong, Molly, dan Omeng dibanding foto kita (WKWKW). Dengan jadwal Omeng yang makan 2x sehari, makin banyaklah foto-foto dia di grup ini.

Tapi, akhir-akhir ini, terutama sejak 2-3 minggu yang lalu, Papa mulai ngabarin kalau Omeng mulai belagak aneh. Iyak kan udah di Malang, jadi nggak bisa secara berkala ngecek kondisinya Omeng. Mama masih rajin beli pindang, Iyak masih sering nyetok Whiskas kali aja pindangnya abis, dan Papa masih rajin ngasi makan tiap pulang kerja. Tapi, Omeng udah nggak seceria dan se-ginak-ginuk dulu. Inget banget, jaman Ramadhan dan Lebaran lalu, Iyak suka pamer ke aku:

"Tadi aku panggil 'Omeng, ayo makan sini.' 
Terus Omeng langsung lari ke aku. Lucuuuu."

Akhir-akhir ini foto Omeng yang dikirim Papa, Omeng keliatan makin kurus. Udah nggak responsif lagi. Dan yang paling sedih.... Omeng sepertinya....sakit.

Iya, sakit.
Aduh, ngetik ini aku nggak tahan pengen nangis. Tadi sore Gatun kirimin foto Omeng yang makin kurus...dan ngelihat matanya..... Omeng-ku kenapa.....
Mata Omeng, yang dulu terkenal lolok (sejenis belo' bego gitu di bahasa Jawa), sekarang udah nggak gitu lagi. Mata Omeng sekarang suka merem, berarir, dan belekan. Omeng udah nggak bisa ngelihat, selalu nutup mata dan akibatnya setiap ada orang yang mau megang malah jadi kaget dan lari...lalu nggak jadi makan. Ngelihatnya hatiku tuh kayak teriris, beneran.... Aku nggak bisa bayangin aja betapa Omeng kesakitan dengan sakit matanya itu. Omeng kan cuma kucing kampung, mungkin banyak yang nggak suka dengan kehadiran dia di daerah perumahan. Kalo Omeng lagi sakit terus malah ditendang-tendang gimana. Mata Omeng udah nggak bisa lihat, kalo dia lari sambil merem terus ketabrak gimana... Kalo Omeng nggak bisa lihat, dia cari makannya dimana kalo nggak berhasil menemukan rumahku lagi..

Aku beneran sesedih itu, se-nggak tega itu sama Omeng..
Kalo mata kalian sakit dan nggak bisa lihat, kalian pasti bakal sedih banget kan..

Aku bayangin itu ke Omeng... Meskipun dulu aku suka ngatain Omeng lolok, tapi karena lolok-nya itu aku jadi sayang. Omeng kucing baik, kucing penurut, kucing yang cinta damai dan nggak pernah ngerebut makanan kucing lain. Aku masih nggak bisa bayangin, hidup Omeng gimana dengan mata kayak gitu dan watak nrimo-nya yang luar biasa...

Gatun tanya, apa Omeng dibawa ke Vet aja. Tapi cara bawanya gimana, Omeng disentuh dikit aja langsung kaget dan lari dan nggak tau bakal balik ke rumah lagi kapan... Tadi baca-baca singkat di google, mungkin Omeng bisa jadi kena penyakit painful eyes, atau glaukoma, atau bahkan tumor...
Aku nggak bisa bayangin ya Allah, Omeng pasti sebenernya lagi kesakitan banget sekarang....tapi sayangnya dia nggak tau gimana cara minta bantuannya. Ya Allah, aku juga nggak tau harus gimana buat bantu Omeng, paling nggak buat meringankan rasa sakitnya Omeng saat ini...

Ya Allah...
Omeng kucing baik, omeng binatang kesayangan Rasulullah.. Tolong ringankan sakitnya, berikan pertolongan setiap dia lapar dan kesakitan, lindungi ya Allah.
Kalau memang Omeng memang sudah tua sudah waktunya dipanggil, tolong jangan dikasi penyakit yang membuatnya kurus atau kesakitan terlalu lama karena aku nggak sanggup liatnya... Tolong beri ia cara pergi yang damai dan indah, selayaknya Omeng yang keluargaku kenal selama ini...
Semoga Omeng cepat dikasi sehat.. dan kalaupun tidak... semoga Omeng bisa jadi pengawal keluargaku di surga nanti dengan keadaan gembul dan lucu, seperti Omeng saat pertama kali dateng ke rumah sambil lari kecil dan mata loloknya.

Semoga.
I love you, Omeng. Bibit sayang Omeng.

September 6, 2018

Berkat.

Beberapa hari terakhir, tiap mau tidur selalu ada yang mengganjal. You know, this pre-quarter life crisis I guess? Atau kalo kata Dadar, ada sedikit FOMO (Fear of Missing Out)-nya. Rasanya senang dan sedih melihat teman-teman sudah mulai meninggalkan Bandung cepat atau lambat untuk bekerja atau mengejar mimpi masing-masing.

Setiap aku iri... (well sometimes we do, gamau munafik) aku selalu berusaha mengalihkan pikiranku kalau-kalau sebenernya aku aja yang kurang bersyukur. Dan kalimat mantra-ku cuma satu:

Semoga aku tetap menjadi berkat bagi orang-orang di sekitarku.

Alhamdulillah, kalimatnya masih sangat powerful untukku.
Yah tiap orang memang punya zona waktu masing-masing. Bukan aku yang gagal kok, mungkin emang belum waktuku aja. Yang penting aku bisa menjadi berkat, sesedikit apapun yang bisa aku kasi.

Huf, semoga selalu dikasi kesehatan untuk menyebarkan lebih banyak berkat dan manfaat.

(Aku takut keburu dijemput tapi manfaatku untuk sekitarku nggak ada... huhu)

August 26, 2018

H-1.

Besok sidang.

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA



Rasanya campur aduk. 
1. Deg2an
2. Panik
3. Takut (menghadapi penguji dan takut ngecewain orang2 yang mendukungku selama ini
4. Senang
5. Agak lega
6. Agak sedih

Iya sedih, soalnya beberapa orang nggak akan datang ke sidang. Lets say Mamuy karena lagi di Korea.... dan Juna yang masih intern.... dan Galih yang lagi di Surabaya. Dan beberapa teman-temanku yang sedang tes kerja padahal aku berjuang bersama mereka selama ini.

Aku sebenarnya tipe orang yang nggak masalah kalo kelar sidang nggak disamper. Tapi to some extends, ada kondisi dimana aku ingin sekali beberapa orang tertentu yang selalu ada untuk dateng. Bukan supaya mereka bisa menyelamati aku... tapi karena aku ingin mereka, orang-orang yang aku anggap berharga dan ingin aku beri apresiasi terbaik selama ini, mengerti bahwa kepercayaan dan dukungan mereka sangat berarti. Aku ingin mereka ada di salah satu hari membahagiakan dalam hidupku, karena (hopefully) esok hari bukan hanya milikku, tapi juga milik mereka.

Tapi dibalik semua itu, aku masih bersyukur sekali dikasi teman-teman yang baik hati dan saling mendoakan. Yang selalu menyemangati kapanpun aku lelah. Semoga suatu saat aku masih bisa memberi apresiasi terbaik dan membalas budi mereka lewat cara yang lain. Aamiin.

August 21, 2018

Kegalauan tentang S2 yang Harus Ditumpahkan.

Malem ini aku abis liatin vlog Tasya Kamila yang bahas tentang kehidupannya di Columbia University. Disitu doi cerita tentang "kosan"-nya disana, which apparently is an apartment. Dulu dia tinggal di dormitory gitu, tapi katanya dia nggak nyaman karena kamar mandi luar dan dapurnya berantakan (harganya $1000 dolar per bulan btw, kalo dirupiahin jadi 13 juta perbulan fyi. it's NYC after all). Kalo dia pindah ke apartemen harga sewanya jadi $1100 yang artinya, nambah $100 aja tapi dapet fasilitas yang lebih oke.

Dari video itu aku mengakui kalo.... kuliah di Amerika, tepatnya di New York City, tuh keliatannya seru banget yah... yang katanya where dreams are made of. Katanya juga if you can make it in New York, you can make it anywhere. Huhu mungkin ini akibat terlalu banyak melihat hura-hura NYC di postingan2 beauty vlogger yang diundang kesana buat acara. Tapi...ya gimana... emang keliatannya seru sih ya.... Kalo stress kuliah langsung ke Times Square (?).

Lalu aku langsung kepengen banget (10000x) kuliah di Columbia University. Selain di NYC, Columbia University juga termasuk Ivy League. Masalah kualitas, ya gausa ditanya sih. Tapi masalah terbesarnya adalah:
S2 MAU AMBIL APA?!
Nah itu pertanyaanya. I myself still have no clear idea what I am going to pursue for the next stage of education. Setelah liat vlog Tasya Kamila dan riset singkat, jadi pengen banget (10000x) ambil SIPA (School of International & Public Affairs) juga soalnya huhu pengen sekali aja dalam hidupku aku belajar hal yg emg aku pengenin yaitu social science dan public sector. Sebenernya sebelum liat vlog doi, sempet kepikiran untuk ambil S2 di Glasgow University jurusan Adult Education karena aku suka isu pendidikan. Take a note on this side ya: keinginan ini didapat hanya melalui observasi yang tidak mendalam setelah Workshop 8 XLFL setelah merancang life plan dan denger cerita temen Tidar yang kuliah disana karena dia fokus ke pengembangan komunitas-komunitas di Indonesia. So sebenernya masih not really sure juga. Tbh, aku juga sebenernya belum komprehensif gitu sih cari-cari info tentang S2-nya jadi my bad. Tapi salah satu hal yang bikin aku jadi pengen kuliah disana adalah... it's in UK, tapi kuliahnya ke Malta dan Swedia juga. I mean, bukan cuma jadi eksplor dan jalan-jalan juga (hehe) tapi juga it means, I will be exposed to brand new cultures, people, experiences, dan hal-hal lain- yang adventurous. Something that always excites me, turns me on.

Selain pertanyaan kuliah mau ambil bidang apa, kuliah dimana itu juga salah satu pertanyaan yang menghantui sih. Saat ini yang ada di pikiranku, aku pengen kuliah di Amerika atau Inggris simply bcs they are English-speaking country (alasan yg tidak kuat yah ini haha).

Particularly in USA bcs:
  1. It's USA baby. Who doesn't wanna taste a glimpse of USA?
  2. Semakin jauh semakin seru. Hehehe, just my 2 cents.
Tapi aku juga pengen kuliah di UK bcs:
  1. You go to UK, you can go to every part of Europe.
  2. The accent (nonsense banget wkwk). Maksudnya, for no particular reason aku pengen kuliah di English-speaking country at first, but since I've got American accent and it suits me pretty well (ulala the feeling when people compliment your English bcs you sound like native is precious hehe), I think it's gonna be pretty challenging kalo aku bisa British accent hehe. This is more like a personal satisfaction sih emang.
Tapi gatau deh beberapa bulan terakhir agak ter-expose dengan kuliah2 di negara lain seperti Belanda dan Australia. Di Belanda karena Kang Arya ke Erasmus (dan Erasmus adalah salah satu best university disana) dan beberapa kali baca tumblr Kak Yasmin yang lanjut ke TU Delft dan beberapa kali cerita pengalaman ditolak beasiswa ke Swedia). Kalo ke Aussie sih hmmm entah beberapa tahun lalu emang sempet liat2 universitas yang oke disana dan emang oke dan Mbak Nimas kan ke Monash juga jadi kayak udah ada "pegangan" gitu (???) tapi kok... kurang tertarik. Mohon maklumi saja kadang bahasa w diketik tanpa dipikir. Heu

LALU. Terdengar kontradiktif bukan. Kalo aku pengen kuliah di English-speaking country kenapa nggak Ausi aja? Udah lebih deket, bagus, ada "pegangan" lagi. Jawabannya karena.... ya aku tidak tau. Kayak.... kurang appealing aja gitu. Sometimes you just want something and you just don't understand why you want it. Ya the other way around too. Sometimes you just don't want something and you just don't understand why you DON'T want it. But if you ask me the same question couple years ahead, my thoughts might have been different (we are evolving, right).

Kemudian channel YouTube kan suka langsung play video-video sejenis ya, muncullah di suggestion video Tasya yang pertama kali tentang kiat-kiat lolos LPDP dan beberapa video-video lain tentang AAS (beasiswa dari pemerintah Ausi). Dan.... wow I didn't even know why I continued watching that. Sampe sekarang pun masih not so sure whether aku pengen dapet LPDP juga atau another scholarship will be fine as well tapi konsep sekolah di LUAR NEGERI, terutama di jurusan dan kampus yang KITA INGINKAN, dan DIBAYARI negara. Wow, only idiots does not want that.

Salah satu yang aku takutin dari segala per-beasiswa-a ini, terutama LPDP adalah.... well, ini adalah sebuah beasiswa yang difasilitasi oleh Kementerian Keuangan. Uang yang digunakan untuk membiayaiku adalah uang negara. Suatu saat, apa yang aku tulis di esai dan aku utarakan di seleksi wawancara perlu aku pertanggungjawabkan. Mempersiapkannya bukan hal yang gampang (who says it's easy anyway). Beside all those administrative stuffs I need to prepare, there are alot more essential things I need to (really) prepare:
WHAT, WHY, AND HOW MY CONTRIBUTION TO INDONESIA WILL BE WHEN I RETURN?
What: pretty much obvious sih. Just like what I told many times in this platform. I want to build my own foundation concerning in education especially in remote areas of this country.
Why: pretty much obvious... but really NOT SURE how to pour into words. Maksudnya, banyak yang bilang kalo bisa usahain apa yang kita pursue saat ini (bisa jadi jurusan S1 atau apapun yg kita lakukan di waktu luang) support our decision to take the field in the masters degree we're applying. NAH. ITU. Aku kan pengen bangun yayasan pendidikan, kasarnya bangun sekolah lah di Indonesia. Itu terdengar sangat sosial kan...sedangkan yang aku pursue right now dan probably after graduation adalah hal yang berbau korporat, or at least, very business-and-marketing like. Jadi bingung, how to link this. Meskipun sebenernya frankly speaking, yang aku pelajarin di TI juga nggak sepenuhnya very technical things like gimana cara menentukan metode inventori yang paling tepat, cara ngitung cycle time whatsoever (oh so enough with those operational stuffs). Tapi juga lebih ke framework berpikir dan menyelesaikan masalah. Intinya: masih bingung gimana caranya menuangkan dan menghubungkan rencana kontribusiku untuk Indonesia dengan kondisiku saat ini.
How: ini pretty much the same dengan why sih. You will have a better understanding of how, if you have fully understood your why. Karena my why is still quite messed up, to construct such a powerful how is a BIG homework.

Begitulah. Segala pemikiran tentang S2 yang cukup menghantui akhir-akhir ini. Pada intinya, aku pasti akan melanjutkan S2 tetapi mungkin tidak dalam waktu dekat so I have much time to contemplate (so used this word lately hehe). Dan dengan keinginan untuk S2 di luar negeri inipun...aku pastikan bahwa aku akan kembali ke Indonesia dan membalas budi. InsyaAllah.

Be hard on your dreams. But be flexible on the way up.
Semoga dalam proses pencarian jati diri ini aku segera diberi pencerahan. AAMIIN.

August 20, 2018

Falling Behind.

I hate this kind of feeling.

The very reason I quitted instagram almost two months ago: the feeling of falling behind. And out of nowhere, I am (silently) unquitting it again, scrolling randomly through photos wasting my time. It strikes me again. How on earth did I forget that instagram is the platform where people showcases how good they are at something.

Just. How. Come.

And here I am, enjoying the cause of my deed backfiring at me.

Everyone's living their (so-called) good life. Udah sidang, tinggal revisi, mulai apply kerja, intern, jalan keluar negeri (either for a program or a vacation) and I am here merely waiting for my defense schedule doing nothing (literally).

As much as I know how magical God's timing is......there's always that feeling that I am not good enough. That people are cool and I'm just some kinds of..... trash.

And as much as I want to spare these two months to graduation as a contemplation moment.....there's always that urge to rush things just because everyone's doing so. I mean, I want to start my own worklife too but I (do) need some time to re-considerare and re-think so that I wont re....gret.


I don't know whether to share this to you will help me cope, but let me just take a moment to organise my mind:
1. It's thesis defense and revision days to the end of August.
2. It's road trip and Prau journey hopefully in September. Probably plus impromptu solo backpacking to Sumatera or Sulawesi if possible.
3. It's hopefully a Asian Paragames at early October.
4. And it's graduation and making lots of important decisions on October. To make it clear: intern/full time, Pengajar Muda or not, Jakarta/Surabaya, stay in Bandung or keep wandering around.

Hope that I'm not careless enough to ruin my own life with all this. And hope that I won't care enough with my friends' great achievements to think that I am bad enough to call myself a failure.

I  hope.

(I am a Work in Progress 1000x, oh how much I want to remind myself this every single time. It is okay not to be okay.)

So let's go back to a life without instagram without daring to open it even for secs.
Your curiosity won't feed you enough, Beth...